SUARARAKYAT.TOP | Dari Rakyat - Oleh Rakyat - Untuk Rakyat Mensubsidi Da'wah Dengan Cara Terhormat
-->

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Mensubsidi Da'wah Dengan Cara Terhormat

SUARA RAKYAT
Minggu, 13 Oktober 2019
  Mensubsidi Da'wah Dengan Cara Terhormat

Suara Rakyat ■ Imam Syafi’i pernah menangis, ketika sahabatnya hendak meminjam uang...

Sang sahabat menjadi merasa tidak enak, lalu dia tanya kenapa beliau menangis.

Ternyata... jawabannya sungguh tak diduga.

“Aku sedih, karena engkau sampai harus datang ke sini hendak meminjam uang. Seharusnya aku tahu kesulitanmu, sebelum engkau hendak meminjam uang padaku”.

Allahu akbar!

Begitu ulama besar memaknai sebuah persaudaraan. Bahwa seorang saudara itu seharusnya “sensitif” terhadap kesulitan saudaranya. Dan bisa membantunya “sebelum ia meminta pertolongan”.

Jika ada saudara antum yang status FBnya “jualan melulu”, status WA-nya barang dagangan, profil picture-nya jualan. Bahkan di hari libur, di hari saatnya santai, ia masih juga jualan...

Jangan suuzhon dulu dengan mengatakan : “jualan melulu !!!!”

Akhi fillah... bisa jadi itulah caranya saudara antum berikhtiar keluar dari kesulitannya

Mereka bisa jadi ingiiiin sekali minta tolong pada antum. Tapi rasa iffah mereka, sudah mencegah dari melakukan itu.

Bisa jadi juga mereka pernah minta tolong pada antum, lalu antum berhalangan. Lalu mereka menjadi tidak enak dan tidak pernah minta tolong lagi pada antum.

Maka jika antum menemui kondisi saudara antum seperti di atas, paksakan untuk membeli produk/dagangan mereka!

Membeli barang dagangan saudara antum 100rb, 200rb bahkan 500rb, TAKKAN MEMBUAT ANTUM JATUH MISKIN !!!

Tetapi bisa jadi dengan nominal-nominal di atas, antum sudah membantu saudara antum “dengan cara terhormat”, agar ia keluar dari kesulitan, dan semoga Allah swt mengeluarkan antum juga dari kesulitan antum sekarang.

Jangan berpikiran, dia kan dagang, harus usaha sendiri.

Akhi fillah, urusan mereka bisa jadi tak-se-sepele itu. Mereka bisa jadi bukan pengusaha besar yang uangnya tak berseri. Mereka harus memutar modal dalam kesempitan dan kebutuhan hidupnya sendiri.

Itu tak mudah, jangan samakan dengan pengusaha besar yang bisa dapat modal triliyunan dengan mudah.

Kadang, kita ini tidak adil.

Kepada orang lain, anak yatim, yayasan, atau lainnya, kita bisa rogoh kocek “sumbangan” 100-500rb (jika ditotal sebulan), sementara untuk membantu saudara kita, kita “pelit sekali”.

Kita ini sering terjebak pada “amal-amal simbolik”. Amal-amal yang membuat kita “perkasa” secara nama, tetapi sebenarnya kurang efisien. Jika ada dua orang sama-sama kesulitan. Salah satunya kader da’wah, orang yang habiskan hidupnya untu da’wah, kepada siapa sebaiknya kita bantu? (tentu antum sudah tahu jawabannya).

Kadang kita juga tak mau bantu saudara-saudara kita yang berniaga dengan alasan: “dia kan dagang”, ya harus usaha sendiri.

Allahu Akbar!

Akhi fillah... Tahukah antum. Bisa jadi “dagangan” mereka itu, untungnya, adalah buat ongkos da’wah mereka.

Untuk mereka beli bensin, makanan, agar mereka bisa mengisi halaqoh di waktu-waktu yang antum tidak bisa.

Karena bisa jadi misalnya, mentoring-mentoring itu, halaqoh-halaqoh itu, amalan-amalan  da’wah itu harus dilakukan di hari kerja, di hari/waktu yang antum pasti tidak bisa.

Ketika antum beli dagangan dia, maka sesungguhnya antum sedang mensubsidi da’wah “dengan cara terhormat”.

Tak semua orang mau “dibayar” untuk mengisi mentoring atau halaqoh atau sebuah amalan da’wah misalnya. Tetapi tentu mereka tak menolak jika antum “memberi-nya” dalam bentuk “pembelian barang dagangan mereka”.

Maka sekali lagi “jangan perhitungan” pada saudara-saudara antum yang berniaga.

Jika pun mereka sukses, jadi pedagang atau pengusaha kaya, infaq, shodaqoh dan zakat mereka takkan lari kemana. Akan ke ranah da’wah juga atau minimal ya demi kepentingan ummat Islam.

Bandingkan dengan perusahaan-perusahaan fast food, consumer goods yang biasa antum beli, yang keuntungannya mungkin berakhir di meja kafe-kafe, minuman keras atau bahkan peluru-peluru untuk membunuh saudara antum di belahan dunia lainnya.

Akhi fillah, sekali lagi, janganlah terlalu perhitungan dengan saudara-saudara antum yang berniaga.

Dan cobalah bantu mereka, hari ini juga, sebab bisa jadi hari ini mereka sedang dalam kondisi kritis. Dan sangat butuh bantuan antum. Entah untuk membayar gaji karyawan mereka, yang mereka sudah kehabisan ide darimana lagi.

Bisa jadi untuk biaya sekolah anak mereka.

Bisa jadi untuk melunasi hutang-hutang mereka, yang mereka sudah sangat tertekan akibat terus menerus ditagih..

Dan masih banyak lagi.

Coba antum ingat-ingat, siapa yang dalam 7 hari terakhir ini pernah menjajakan dagangannya pada antum atau meminta bantuan antum untuk dipromosikan produknya.

Lihat status FBnya, twitternya, WA-nya dst. Lihat apa penuh dengan dagangan. Jika ia, itu “tanda”, mereka bisa jadi sedang sangat butuh pertolongan.

Sekali lagi, membeli produk mereka 100rb, 200rb, 500rb atau bahkan lebih, takkan buat antum jatuh miskin.

Niatkanlah untuk berinfaq atau shodaqoh.

Kalau pun antum tak butuh jualan mereka, nanti bisa antum sumbangkan. Maka pahala antum makin berlipat. Pahala shodaqoh ke saudara antum, pahala mengeluarkan ia dari kesulitan dan pahala shodaqoh barang antum ke orang lain.

Akan semakin maksimal bantuan antum, jika setelah membeli, antum juga mengajak orang lain untuk membeli.

Mari bantu saudara-saudara kita hari ini juga, saat ini juga, setelah kita membaca tulisan ini.... Sebab jika bukan kita, siapa lagi?

Dari Abu Hamzah, Anas bin Mâlik Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan”. [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Artinya: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim).

Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW, bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”.

(HR. Muslim, lihat juga Kumpulan Hadits Arba’in An Nawawi hadits ke 36).

■ Suara Netizen